MENJADI PEMAIN ATAU PENONTON
MENJADI PEMAIN ATAU PENONTON
Sesungguhnya kehidupan yang kita jalani
saat ini dapat diibaratkan seperti permainan sepak bola. Kita hidup dalam
sebuah pertandingan yang menarik. Kita mesti melakoni pertandingan setiap hari
dalam waktu yang sudah ditentukan. Adakalanya pertandingan itu sulit untuk
dimenangkan, kita merasa kalah atau bahkan meraih hasil yang imbang. Dalam
pertandingan sepak bola kehidupan ini, Tuhan menggunakan seluruh umat manusia
untuk menjadi pemain. Sayangnya tidak semua orang menanggapi undangan itu.
Bahkan sebagian orang berdalih dengan mengatakan terlalu sibuk, atau baru saja
menikah, atau menyetujui tapi menundanya. “banyak yang dipanggil, tetapi
sedikit yang dipilih”(Mat. 22:14). Fakta menunjukan bahwa menjadi pemain yang
telah dipilih akan melewati banyak ujian, tantangan, dan rintangan sebelum
mereka memenangkan pertandingan itu. Kita bisa melewati semua ini ketika kita
mampu mencintai hidup ini dengan segala keberadaan kita. Seperti sepak bola,
anda tidak akan menjadi pemain bola handal, jika anda tidak mencintai bola. Amor
est parens multarum vo inpatum, cinta adalah bunda dari pelbagai sukacita.
“siapa tidak mencinta, dia akan jadi pemalas” ungkap Herera, pelatih Inter
Milan 1963-1966.
Kita dihadirkan didunia untuk menjadi
pemain sepak bola kehidupan, bukan menjadi penonton. Ada perbedaan yang hakiki
antara menjadi seorang pemain dan penonton. Pada umumnya, seorang penonton akan
lebih mampu memberikan komentar dan kritik dibandingkan pemain karena ia sedang
menonton bukan bertanding. Ketika pertandingan sedang berlangsung, penonton
dapat memberikan komentar dan kritik. Mereka juga tampak tenang bila
dibandingan dengan pemain. Penonton jarang mendapat cedera atau bermandikan
keringat dan terengah-engah kelelahan karena mereka hanya duduk. Maka wajar
saja seorang penonton terbaik sekalipun tidak berhak mendapatkan mahkota.
Kita bukan Maradona, Lionel Messi,
ataupun Cristiano Ronaldo yang merupakan mega bintang sepak bola dunia. Tetapi
jangan hanya melihat piala kemenangan sang juara, tapi renungilah setiap tetes
keringat yang harus dikorbankan untuk piala tersebut, dan belajarlah dari
mereka. Mereka meraih gelar pemain terbaik itu melalui keringat yang lebih
besar dari lawan-lawannya.
Lalu pertanyaan yang muncul. Bagaimana
menjadi pemain bola kehidupan? Ada beberapa prinsip yang harus kita pahami
dengan benar untuk menjadi pemain dalam pertandingan kehidupan dengan baik baik
antara lain:
1.
Memabngun pertobatan terus menerus, karena dosa akan
menjadi kekuatan yang menghancurkan mereka yang sedang bertanding.
2.
Tetaplah berlari. “Lebih baik berlari daripada
bermalas diri”(Gothe, pemain tengah Arsenal).
3.
Memiliki tujuan. Jika anda tidak memiliki suatu
rencana hidup, niscaya engkau tidak akan memiliki keteraturan dalam hidup.
Hidup menurut suatu rencana, suatu jadwal, adalah hal yang sangat membosankan!
Aku menjawab; hal itu membosankan sebab anda tidak memiliki tujuan yang jelas.
Tujuan dari pertandingan sepak bola adalah menciptakan gol. Begitupun dengan
anda milikilah tujuan untuk mencetak gol.
4.
Milikilah mimpi. Neymar dalam sebuah wawancra
berkata, “bahwa tidak ada salahnya bermimpi menjadi pemain terbaik. Intinya
selalu mencoba untuk menjadi yang terbaik”. Ingat kita tidak bisa harus
menunggu menjadi pemain terbaik untuk memulai, tetapi kita bisa memulai untuk
menjadi pemain terbaik.
5.
FOCUS. Follow One Choose Until Sucsses, ikutilah
satu pilihan sampai sukses. Tidak perlu bertanya kemana dan apa yang harus kamu
lakukan. Mari kita mengambil langkah yang pertama. Setelah itu, Tuhan pasti
akan menunjukan langkah berikutnya. Sehingga bersama Santo Paulus kita berkata
“aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir
dan aku telah memelihara iman”(2 Tim 4:7).
Komentar
Posting Komentar