Antara cinta dia dan cinta-Nya
Antara cinta dia dan cinta-Nya
Oris
Banase
Matahari makin mendaki, udara jadi
menghangat bahkan cukup panas bagi orang-orang yang telah sibuk bergerak dengan
urusannya masing-masing sejak pagi ini. Suasana kian bising dengan gema suara
berbagai kendaraan bermotor, musik hip-hop, serta gerak manusia ditambah
teriakan-teriakan para guru mengatur
para generasi muda dalam upacara bendera hari senin.
Aku duduk dalam sepi. Aku masih terdiam.
Aku sibuk dengan kisah yang ingin kutulis. Ini tentang kisah cinta dan
panggilan hidup. Tetapi tanganku terasa beku. Ketika ingatanku pada dia
mendatangiku seperti mimpi. Aku ingin, lagi-lagi memuat sosok wanita yang
pernah kumiliki, pernah menjadi bagian tak terpisahkan antara satu dengan yang
lain. Bahkan hingga saat dimana aku harus mengucapkan janji setia kepada Dia
yang memanggilku, sesungguhnya hanya banyangan dia yang lebih sering menguasai
setiap kali aku menemukan kesadaraan.
Aku pun bergegas menulis kisahku. Meskipun sebagaimana menuliskan sebuah mimpi yang telah lewat, yang bisa kupaparkan dengan jelas hanyalah bagian-bagian tertentu sedang bagian lain kabur dan samar. Aku dibawa kembali pada masa dulu. Yang aku ingat adalah bahwa dulu kami pernah saling memiliki, saling menyatu, memberi dan menerima. Dulu? Ya, dulu. Tapi kapankah itu? Sudah lamakah? Atau baru saja? entah aku tidak mampu mengingatnya, tetapi kini hadir kembali.
“Risma...aku ingin mengatakan sesuatu
yang penting!” kataku.
“Apa yang ingin kamu katakan, sayang?” jawabnya dengan
tatapan penuh tanya. Suatu tatapan yang mewakili ucapan membuatku tak mampu
berkata-kata. Aku diam seperti seorang terdakwa dihadapan para hakim. Aku
terdiam. “...Tuhan bantulah aku..”.
“Jujur sayang, aku sangat mencintaimu.
Aku mencintaimu karena aku percaya engkau menyukai diriku apa adanya.
Tapi...maafkan aku sayang...aku...menyadari ada Cinta Lain yang lebih besar.
Aku ingin masuk....biara” kataku dengan terbata-bata. Tetapi karena cinta yang
hebat, seorang berani. Apa pun yang terjadi aku berani katakan semuanya.
Meskipun aku terjebak antara cinta dia dan cinta Tuhan. aku harus berani
memilih ataukah hidupku akan dipilihkan? Jujur, aku sesali kata-kataku. Ingin
kutarik, tetapi tekadku sudah bulat. Aku harus mengatakannya, apa pun yang terjadi.
Cinta adalah kata yang indah ketika
diucapkan, membuat terbius dan terpesona. Cinta membuat orang bahagia. Cinta
bisa merubah segalanya. Duka menjadi suka. Sedih menjadi gembira. Dalam cinta
segala menjadi indah. Ah...ini hanyalah khayalanku tentang cinta. Ini berbeda
dengan yang kualami sekarang. Cinta itu seperti dua sisi mata uang. Satu sisi
membawa kebahagiaan, dan sisi lain dia membawa penderitaan.
“Apa salahku, Ris? Aku benar-benar
mencintaimu. Segalanya telah kuberikan kepadamu, Ris...Aku tulus mencintamu apa
adanya. Apakah, Ris lupa akan segala kenangan kita? Ujar Risma.
“Risma mengertilah... aku pun rindu pada
semuanya. Semuanya masih terbayang. Aku sangat sayang kamu.... Tetapi...”
“Tetapi apa?” potong Risma. Dia tidak
melanjutkan kata-katanya. Sekilas kutatap wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Dia
sudah menangis. Air mata membasahi pipi manisnya. Makin lama makin membanjir.
Tak kutemukan keceriaan di wajah cantik itu. Ia memandangku. Pandangannya
begitu kosong. Air mata dibiarkannya terus mengalir. Ada kesucian di air mata.
Itu bukan tanda kelemahan, tapi kekuatan. Air mata berbicara lebih fasih dari
sepuluh ribu bahasa. Air mata adalah utusan kesedihan yang luar biasa.
Penyesalan mendalam, dan cinta yang tak terkatakan.
“Aku
ingin menjadi sorang imam. Ayah, ibu, dan keluargaku telah mendukungku dengan
sepenuh hati. Risma aku hanya ingin minta pengertianmu. Aku merasakan ada cinta
lain yang lebih besar” kataku dengan tenang.
Dia
terdiam. Kubiarkan ia merenung. Air matanya terus membasahi pipinya. Risma
berlari meninggalkanku seorang diri. Kepergiannya tak kuharapkan. Ia berlalu
begitu cepat.
Kepergian
seorang yang kita cinta memang menyakitkan. Hal tersulit dalam hidupku adalah
kepergian orang sangat aku cinta. Aku sadar dia juga begitu tersiksa akan
pilihanku ini.
***
Hari-hari
selanjutnya berlalu begitu cepat dan terasa hampa. Bayang-bayangnya yang
seakan-akan tak pernah hilang, selalu hadir dalam setiap lamunan dan mimpi. Walaupun
dia tidak bersamaku namun seakan-akan hadirnya sangat dekat. Apa pun yang
terjadi, namun semua itu sudah menjadi takdir Sang Mahakuasa.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif
atau berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi” itulah yang selalu
terdebngar setiap kali aku menghubunginya.
Aku sangat rindu dengan dia. Hari-hari
terasa tanpa makna. Pikiran kian kalut. Rindu, begitu setia mendampingiku
setelah kepergiannya. Rindu ini begitu menyiksaku. Semakin saya berusaha
mematikan rindu ini, semakin rindu itu beranak pinak. Ia terus berkobar-kobar
merangsang rasa untuk berjumpa.
“Aku harus bertemu dengan Risma” tekadku
Keesokannya, aku bergegas kerumah Risma.
Dirumahnya, dia datang menemuku, dudk disampingku dan tersenyum menatapku. Aku
benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu. Aku sadar, aku sangat mencintai
dia.
“Orryzsh, aku mendukungmu. Aku sangat
mencintaimu apa pun pilhanmu. Aku akan tetap mencintaimu. Ikutilah Dia yang
telah memanggilmu, karena Dia lebih membutuhkanmu untuk bekerja dikebun anggurNya” kata Risma membawa
kabar gembira.
Aku meneteskan air mata. Air mata
bahagia. Lega rasanya.
Cinta itu selalu punya alasan untuk
kembali menjadi penghibur setiap hati.
Menjadi sandaran jiwa juga pelegah. Kuberlangkah pulang dengan hati yang riang
gembira. Sukacita menyelimutiku. Terlintas dalam pikirku, “aku akan tetap setia
pada Dia yang telah memanggilku. Apa pun tantangan pada pilihanku ini, aku akan
menghadapi semuanya dalam nama Allah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus
yang rindu kumandangkan kepada umat daam perayaan Ekaristi yang aku pimpin.
Komentar
Posting Komentar