YESUS; PEMAIN SEPAK BOLA

                                YESUS; PEMAIN SEPAK BOLA

                                                Oris Banase

 

Menurut kamu, siapakah Aku ini? (Luk 9:20). Inilah pertanyaan Yesus kepada murid-murid-Nya. Tentu ini juga berlaku bagi kita semua sebagai pengikut Kristus. Maka berikut ini merupakan sebuah refleksi sederhana dariku mengenai pribadi Yesus.

 

A.                Globalisasi Sepak Bola

Hidup yang rutin ini tidak pernah memberikan intesitas kepada manusia. Sepak bola dapat memberikan pengalaman akan intensitas itu, bila bola berubah menjadi gol. Orang akan menanti gol, ia tidak tahu kapan gol itu terjadi. Tiba-tiba gol itu terjadi tanpa terduga dan takkan dapat berulang lagi. disinilah bola membentur kehidupan yang kosong dan rutin. Dan dalam benturan itulah memberikan kebahagiaan. Demikian ungkapan dari Nick Hornby, seorang sastrawan Inggris, yang merupakan fans fanatic Arsenal.

Sepak bola adalah salah satu olahraga yang sangat disukai oleh banyak orang, tanpa terkecuali. Baik itu anak-anak sampai orang tua. Bahkan kaum wanita sekalipun. Seoak bola sangat popular dan telah mendunia. Sepak bola telah menjadi global, globalisasi bola telah menyentuh siapa pun. Sepak bola telah membawa cahaya dalam hidup yang penuh kegelapan. Orang merasa bahagia menyaksikan sepak bola daripada menonton politik. Politik memang perlu, tapi lewat politik kita hanya akan menemukan perbedaan partai-partai, ide-ide setiap politikus, dan lain-lain. Lewat bola kita menemukan satu-satunya ideal, yang bisa membuat orang seia-sekata. Bola adalah pemersatu politik. Mengapa? Karena lewat bola, anak-anak, orang tua, bahkan wanita melupakan perbedaan yang ada diantara mereka. Begitupun dengan yang Kristen maupun Islam, kulit hitam maupun putih telah dipersatukan dalam bola.

Terlepas dari itu, rasanya tidak lengkap jika membicarakan sepak bola tanpa para pemainnya. Mereka itulah para pemain yang memainkan bola dan menjadikan sepak bola itu indah. Bagaikan air yang mengalir, bola terus bergulir dari kaki ke kaki, sampai mencapai tujuan dan berubah menjadi gol. Pemain sepak bola terus bergerak dan menyerang serta bertahan. Mereka terus mencari dan mencari bola dari segala arah. Mereka menerima rasa sakit, jatuh tetapi bangkit lagi dan terus berlomba merebut bola. Mereka adalah sang pemain sepak bola yang istimewa.


B.                 Potret Yesus, Sang Pemain Bola

Tentu setiap orang memiliki pandangan tersendiri tentang Yesus. Michael Amaladoss, SJ menemukan potret Yesus dengan beberapa sebutan seperti Jesus as Avatar, Jesus the Satyagrahi, Jesus the Advaitin, Jesus the Bodhisattva, dan Jesus the Dancer.

 Yesus bagi saya adalah pemain sepak bola. Ia menjadikan sepak bola hidup ini begitu indah dan bermakna. Ia bermain untuk setiap orang tanpa terkecuali. Ia bermain untuk siapa pun yang tertera didepan kaus-Nya. Ia mengalirkan bola kehidupan bagi setiap insan dengan mengolah bola sukar menjadi bola keindahan.

Yesus adalah pemain bola juga berarti bahwa Bapa dan Roh Kudus turut bermain bersama-Nya. Permainan Yesus adalah suatu dimensi dari permainan Allah. Maka, permainan Yesus menunjukan interaksi penuh kasih di antara Tiga Pribadi Ilahi yang tak berkesudahan.

 Dalam menghadapi rasa sakit itu, Yesus tetap bermain bola, Ia terus bergerak dan menyerang serta bertahan, dan melalui permainan-Nya itu Ia menjadikan rasa sakit sebagai peluang untuk mencetak gol yang kemudian Ia menang; kebangkitan. Ia menjadi pemain bola yang paling istimewa. Karena Ia bermain untuk siapa pun yang tertera di depan kaus-Nya, maka semua orang mengingat-Nya yang tertera di bagian belakang kaus itu; YESUS. Ia bagi pemain terbaik seluruh kehidupan ini yang meraih gelar kemuliaan melalui keringat yang lebih besar dari lawan-lawan-Nya.

Bintang telah bersinar kembali, terang dengan Yesus yang memainkan bola. Sebagai pemain sepak bola, Yesus menerima rasa sakit dan penderitaan. Ia menerima rasa sakit sebagai pelanggaran yang kemudian berujung pada penalty yaitu disalibkan karena pelanggaran yang bukan Ia buat, tapi karena karena pelanggaran kita sendiri yang mengakibatkan-Nya di penalty. Ketika menghadapi penalty tidak ada apa pun dan siapa pun yang dapat membantu-Nya. Ia melangkah ke kotak penalty, Ia sendiri, fans fanatic pun tidak dapat membantu-Nya. Justru para fans yang selalu mendukung-Nya, lari menjauh dan menghianati Dia. Malahan memuntahkan kata-kata yang kasar.

Kehidupan yang kita jalankan sekarang adalah sebuah permainan. Kita adalah pemain yang memainkan bola kehidupan  masing-masing. Permainan sepak bola itu sederhana. Tapi kita yang sering merasa sulit untuk memainkan bola kehidupan kita. Maka, apabila kita sudah memilih sebuah permainan bola itu kita perlu bertanggung jawab, setia, tekun serta bermain sampai selesai. Jangan pernah bermain-main dengan permainan itu. Jika kita bermain-main dengan permainan itu, maka kita akan dipermainkan oleh permainan itu sendiri. Permainan yang kita jalankan tentu kita harus  mengalami rasa sakit. Namun yang lebih penting adalah jangan pernah bermain sendirian. Kita bermain bola kehidupan ini untuk Kristus, demi Kristus, dan  k arena Kristus. Kita bukanlah pemain utama dalam hidup. Yesuslah Sang Pemain Bola yang utama. Bermainlah bersama Yesus, maka kita akan mencapai kemenangan yang termulia. Bersama Yesus kita bermain dalam permainan itu dengan menguasai diri dalam segala lini kehidupan. Kita bermain untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi (bdk. 1Kor 9:25-26). Dengan demikian kita telah mengakhiri pertandingan yang baik, kita telah mencapai garis akhir dengan mencetak gol.

 



                                                                                                         

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer