USAPLAH AIR MATAMU DENGAN UJUNG JUBAHKU
USAPLAH AIR MATAMU DENGAN UJUNG JUBAHKU
Oris Banase
Angin musim kemarau merontokkan
daun-daun advokat yang sudah kering. Suaranya mendesau-desau. Pojok halaman
bruderan terasa semakin lengah. Pendopo pun mulai sepi ditinggalkan para tamu dan
kerabat para bruder yang baru saja selesai mengucapkan kaul pertama hari ini
tepat tanggal 21 Juni 2018. Ada lima orang bruder yang mengucapkan kaul
pertama.
Br.
Stefan Rodrigues, satu diantara lima bruder, baru saja
melepas keluarganya di pintu gerbang bruderan. Masih mengenakan jubah, ia
langsung menuju pojok halaman. Di
atas kursi kayu panjang, Astin sudah menunggu.
Gadis itu pura-pura tidak melihat kedatangan laki-laki tadi.
“Maaf, harus lama menunggu,” kata Stef, panggilan akrab bruder tadi.
Astin menoleh. Ia
mencoba tersenyum. Tetapi, tampak senyumnya itu hanya basa-basi.
“Datang
sendiri? Ibu kok tidak diajak?” tanya Stef sambil duduk di
samping gadis itu.
“Untuk
apa?” Astin balik bertanya.
“Ibumu
pernah berjanji akan datang di hari bahagia ini.”
“Siapa
yang bahagia?” tukas Astin cepat.
Pertanyaan itu sepertinya sudah ia persiapkan cukup lama. Ia simpan di hati.
Lalu, ia letakan di ujung lidah. Kini saat yang tepat ia luncurkan.
Stef terhenyak. Ia
tidak mengira akan ditusuk dengan pertanyaan yang mematikan itu. Siapa yang
bahagia?
“Ibu
pernah bercerita padaku, sebenarnya ia punya harapan lain. Ia tidak akan pernah
datang kemari dalam peristiwa seperti ini. Sebab, ibu berharap peristiwa ini tidak akan pernah terjadi!”
Stef menghela
nafas. Angin kemarau terasa semakin kering. Rimbunnya pohon bungenvil di depan
mereka benar-benar tidak mampu memberi kesejukan. Celotehan para adik tingkat
dari kejauhan tak ia hiraukan.
“Lima
tahun aku berharap, lalu, semuanya sia-sia. Haruskah hari ini aku mengubur
harapan itu? Semudah itukah aku melaksanakannya? Rasanya sakit sekali,” ucap Astin dengan suara serak. Matanya sembab. Ia buru-buru
mengambil tisu dan mengusap air matanya yang hampir meleleh.
“Bukankah
saya sudah minta maaf berkali-kali? Haruskah permintaan itu kuulangi lagi?
Berapa kali lagi saya harus mengucapkannya, Astin?” tanya Stef.
“Apakah
permintaan maaf bisa langsung membunuh harapanku?” tukas Astin cepat. “Tidak adakah kata lain selain permintaan
maaf?”kejar gadis itu.
“Saya
harus mengatakan apa, atau saya harus berbuat apa untuk menjelaskan semuanya
ini?” tukas Stef tak mau kalah.
“Bukankah
sejak awal sudah saya katakan, jika harus memilih, maka jalan panggilan inilah
yang harus saya pilih. Sejak saya masih
kecil, saya bermimpi, suatu saat nanti saya akan memakai jubah. Dan saat itu
sudah ada di pelupuk mata.”
“Kamu
egois! Hanya keinginanmu sendiri yang kamu utamakan!”
“Apakah
saya harus mengutamakan keinginan orang lain? Ini tidak realistis. Semua orang
pasti akan mengutamakan cita-citanya sendiri. Setelah terwujud, baru dia
membantu mewujudkan keinginan atau cita-cita orang lain. Hal itu wajar, tidak
ada kaitannya dengan egoisme seseorang.”
Astin menelan ludah.
Rasanya pahit sekaIi. Baginya, kata-kata lelaki di sampingnya itu seperti kopi
pahit yang harus ia telan. Mau tidak mau. Harapannya untuk mengajak laki-laki
itu hidup wajar sebagai orang awam, pupus sudah. Mimpi-mimpi ia akan duduk di
kursi pelaminan dengan laki-laki yang ia cintai itu kandas. Semua jalan sekarang
sepertinya sudah tertutup rapat-rapat untuk dirinya. Semua pintu sudah digembok
dan diberi palang. Ia tidak mungkin membuka pintu hati laki-laki itu dan
tinggal di dalamnya.
Angin
kemarau masih saja merontokan daun-daun advokat. Pendopo bruderan benar-benar
sudah sepi. Begitu juga lorong yang menghubungkan pendopo dengan kamar-kamar
penghuninya. Tak terdengar lagi celotehan-celotehan nakal para bruder.
Astin menutupi wajah
dengan kedua telapak tangannya. Kali ini ia benar-benar ingin menangis. Kalau
boleh malah akan menjerit sekuat-kuatnya, melepas beban di pikiran dan hatinya.
Tiba-tiba,
kenangan tujuh tahun lalu muncul di
benaknya. Ketika ia pertama kali menginjakan kaki di Sekolah Menengah Kejuruan.
Ia berkenalan dengan laki-laki itu, Stef. Ah, betapa
indahnya orang dimabuk cinta. Betapa
bangganya menjadi wanita yang memperoleh pujian dan sanjungan dari lelaki yang
dicintai. Keindahan hari-hari hidup di SMK sungguh mengenangkan bersama dengan
laki-laki yang dicintai. Selalu saja mereka berdua berjuang bersama untuk
mencapai nilai yang memuaskan dalam setiap pelajaran. Cinta mereka semakin
tumbuh, keduanya mulai menyusun batu fondasi. Di atas fondasi itulah ia punya
keinginan membangun rumah cinta. Tempat ia dan seisi keluarga menghabiskan
hari-hari penuh canda ria. Bersama laki-laki yang dicintai, bersama anak-anak
buah cinta mereka, rumah cinta itu kelak bakal ia ubah menjadi Taman Firdaus.
Ia pun telah siap membunuh ular jelmaan setan jika sewaktu-waktu hewan melata
itu datang menggodanya.
Tetapi,
fondasi dan rumah cinta itu runtuh hari ini. Batu dan gentengnya
berserakan.karena ternyata fondasi itu
ia bangun di atas pasir mimpi!
“Apa
yang harus kulakukan sekarang?” tanya Astin dengan suara
serak.
“Hari-harimu
masih panjang, Astin. Duniamu masih
terbentang luas. Kamu masih bisa membangun mimpi-mimpi indah. Kamu cantik dan
cerdas. Saya yakin, banyak lelaki yang mencintai kamu,” hibur Stef. “Percayalah, dirimu dan keluargamu akan selalu
menjadi bagian dari doa pribadiku. Segala susuatu yang manis tidak akan saya
lupakan,meski saya tidak bisa memilik dan melihat setiap hari.”
“Bruder!”
pekik Astin akhirnya. Ia tak bisa lagi membendung air matanya.
Gadis cantik itu menangis sejadi-jadinya. Sementara Stef hanya diam. Sebisa-bisanya ia menahan diri
agar tidak larut dalam pusaran emosi.
“Ya,
menangislah sepuas-puasmu, As,” kata Stef dengan suara parau. “Saya harap ini tangisan
terakhirmu.
Karena itu,
hapuslah air matamu dengan jubahku. Sebagai tanda bahwa engkau akan menghapus
mimpi-mimpimu akan diriku. Mimpikan diriku dalam kondisi seperti sekarang,
sebagai pelayan Tuhan.”
Astin menoleh. Ia
mengangguk. Tangannya dengan cepat meraih ujung jubah. Pelan-pelan ia hapus air matanya dengan jubah itu. “Terima kasih, Bruder. Sekarang aku merasa
bahagia sekali. Sungguh, aku tidak akan melupakannya seumur hidup.”
Lalu,
gadis itu menyahut tangan Stef. Ia cium tangan
itu dengan rasa hormat. Tanpa menoleh lagi, ia bergegas
menuju pintu gerbang bruderan. Sebuah mobil melaju tidak begitu kencang. Astin melambaikan tangan.
Mantap ew
BalasHapusSodara Terima kasih untuk puisinya, sangat menarik dan saya sangat terharu ๐๐๐๐
BalasHapusCerpenNya Sangat Menarik ...
BalasHapusTerharu juga stlh baca๐
Cerpernya ya Tuhan๐ฅบ
BalasHapusMengisahkan sekali posisi ini๐๐ฅบ
Keren cerpennya Bruder, jgn marah baru sempat baca...pasti Astin sudah jadi fans Madrid skrg...๐คฃ
BalasHapus