DOA : Bermain Sepak Bola

 

DOA : Ibarat Bermain Sepak Bola

(Oris Banase)

Sepak bola itu sederhana, tetapi bermain secara sederhana itu sangatlah sulit

(Johan Cruyft)

Dalam kehidupan setiap hari tentu kita berhadapan persoalan dan tantangan hidup yang membuat kita tak berdaya. Ada kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri kita. Dalam ketak berdayaan ini kita mencoba pasrah kepada Tuhan dalam doa-doa kita. Berharap kepada Tuhan untuk memberikan jalan keluar bagi setiap masalah yang dihadapi. Namun pernahkah kita sadari bahwa doa bukanlah sebuah placedo yang membuat doa seolah-olah dapat memberi jalan keluar bagi setiap kesulitan.

Banyak orang yang sering bertanya kepada saya, bagaimana berdoa yang baik? Terdengar sederhana namun sulit bagi saya untuk menjawab. Ada banyak buku yang menjelaskan tentang bagaimana berdoa yang baik. Ada begitu banyak rumusan doa yang dibuat.

Dalam refleksi saya bahwa berdoa itu ketika kita menjadi diri sendiri (be your self). Saya tidak bermaksud bahwa apa yang ditulis dalam rumusan-rumusan doa itu salah. Itu sah-sah saja. Bagaimanapun caranya, doa adalah kegiatan untuk menjadi diri sendiri. Menjadi diri kita apa adanya. Dalam berdoa kita tidak perlu memikirkan rumusan-rumusan doa yang benar, karena hal ini hanya akan membuat kita bukan lagi menjadi diri sendiri. Berdoa berarti menatap diri kita sendiri, apa adanya, dalam rasa aman dan kerahasiaan hati kita.

Suster Wendy dalam tulisannya yang berjudul Simple Prayer mengatakan tentang esensi tindakan doa. Baginya, esensi tindakan doa adalah “berdiri telanjang di hadapan Allah hingga akhirnya Allah-lah yang akan bertindak dalam diri kita.” Allah bukanlah raja yang mewajibkan kita untuk menggunakan kata-kata santun ketika bercakap-cakap dengan-Nya. Kita hanya perlu hadir dengan segala apa adanya diri kita.

Dalam refleksi selanjutnya saya pun menemukan pemahaman tentang doa. Doa dapat saya pahami sebagaimana halnya bermain sepak bola. Sepak bola itu sederhana, tetapi bermain secara sederhana itu sangatlah sulit (Johan Cruyft). Itulah doa yang sangat sederhana tetapi banyak orang yang sulit melakukannya. Ketika bermain bola awalnya itu memang tidak mudah. Banyak sekali hal yang harus saya latih. Bahkan ketika menyaksikan pertandingan sepak bola, banyak pelatih yang menggunakan berbagai strateggi untuk memenangkan permainan. Gambaran-gambaran inilah yang acap kali diterapkan salah oleh para pemain. Dalam hal ini, kelemahan dalam penggambaran-penggambaran terletak pada pengungkapannya dalam permainan. Keterbatasan tersebut membuat doa-doa kita terpaku pada rumusan sehingga berbeda dengan yang sesungguhnya kita inginkan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Navio Scale bahwa saya terlalu banyak menggunakan kamus. Pemain tidak menangkap apa yang saya maksud. Biarlah bola itu berjalan sesukanya, jangan ditanya kemana atau lewat mana. Tidak ada gunanya ia diterka-terka. Sesuatu yang asing pastilah tidak akrab dengan diri kita dan doa dapat dianggap permainan sepak bola yang dimana pelatihnya menggunakan berbagai rumus yang membuat pemain tidak paham. Tetapi bagi para pemain profesional, permainan sepak bola itu mudah untuk dimainkan karena ini sudah merupakan kehidupan mereka. Berbeda dengan orang yang baru mau memulai bermain bola. Sedikit demi sedikit mereka perlu berlatih untuk dapat bermain dengan baik.

Ada orang-orang yang memiliki bakat sehingga dalam waktu singkat, mereka dapat bermain secara baik dengan cara yang hampir sama dengan orang-orang profesional. Meskipun demikian, bagi mereka yang tidak berbakat sekalipun, jika tetap berusaha, mereka akan terbiasa dengan permainan sepak bola, dan dapat memainkannya dengan baik.  Tetapi untuk sampai tahap itu, ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian yang cukup. Ada beberapa hal yang perlu dipelajari: latihan, latihan, dan latihan. Tetapi, tugas kita tidak berhenti sampai di situ. Kita belajar demi tujuan tertentu; untuk mampu bermain sepak bola dengan baik dalam setiap pertandingan dan dalam segala kesempatan. Oleh karena itu, sedikit paksaan bisa sangat dibutuhkan. Terkadang kita hidup dalam kegelapan. Tetapi bola membawa kita pada terang. Dalam kehidupan kita tentu ada hal-hal yang membuat kita sedih, mengalami duka, dan rasa sakit tetapi doa merubah segalanya. Dengan berdoa membuat kita semakin yakin bahwa segala sesuatu itu bisa dilewati. Sepak bola pun memberikan kepercayaan bahwa kita dapat menjalankan segalanya.

Bermain sepak bola dapat menjadi cerminan kehidupan doa kita. Bermula dari sesuatu yang sama sekali asing dan tidak kita kenal menjadi akrab dan biasa jika menggunakannya secara teratur dengan tingkat keseringan tertentu. Kita berdoa agar kita dapat berdoa. Doa tidak akan menjadi sesuatu yang biasa bagi kita. Demikian juga, hidup kita tidak akan pernah menjadi sebuah doa jika kita tidak menyediakan waktu khusus untuknya. Yang paling pokok juga yaitu kita perlu mencintai doa itu sendiri. Rupanya doa itu sama seperti pengalaman kita dalam mencintai. Kita tidak akan mampu bermain bola dengan baik jika tidak mencintai sepak bola. Lebih jauh bahwa doa itu membawa kita pada kesadaran diri bahwa hidup bukanlah untuk mencari dan menyenangkan diri. Tetapi hidup merupakan persembahan yang hidup kepada Allah, dengan memberikan diri kepada Dia.



Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer